Ibunda Paskibraka yang Meninggal Dengar Anaknya Pernah Ditampar

Ibunda Paskibraka yang Meninggal Dengar Anaknya Pernah Ditampar

Sang Ibu Aurellia, Sri Wahyuniarti menceritakan

anaknya selama mengikuti pendidikan dan pelatihan paskibraka di Tangerang Selatan, sebelum meninggal dunia. Adalah Aurellia Quratu Aini salah satu calon Paskibraka Tangsel yang meninggal dunia itu.

Aurellia diceritakan sang ibu pernah mendengar anaknya ditampar saat mengikuti latihan itu. Tapi Aurellia disebutnya mengaku hanya dorongan biasa.

“Kalau yang Aurel akui Aurel pernah ditampar. Saya bilang kalau sampai ditampar itu salah. Kembali saya rekap bahwa ada sistem yang salah. Dan dia seolah-olah mengoreksi, enggak kok mah, tamparannya enggak keras cuma didorong,” kata Wahyuniarti di Rumah Duka, Jalan Singosari Raya, Perumahan Taman Royal 2, Cipondoh, Tangerang, Jumat (2/8/2019).

Wahyuniarti mengatakan, anaknya dalam kondisi sehat dan fit saat mengikuti latihan tersebut dan tanpa keluhan apapun. Bahkan Aurellia sempat memberikan informasi kegiatan yang dilakukannya selama latihan itu.

Aurel dalam kondisi yang sangat fit

Dia sudah kasih tahu bahwa akan ada renang di sore hari. Saya sempat bilang, setelah kalian kegiatan fisik, itu tidak semua siap langsung masuk ke kolam nak. Kamu jangan ikut kalau kamu tidak sanggup. ‘Kakak sanggup kok, kakak mau karena kakak pengin’,” tutur dia yang menirukan ucapan Aurellia.

Tapi Aurellia sambung Wahyuniarti terlihat kondisi sangat lelah setelah mengikuti latihan itu. Cerita Aurellia kepada sang ibu, ada temannya yang dihukum karena membuat kesalahan, sehingga Aurellia juga mendapatkan hukuman yang sama.

“Sampai rumah setengah 8 malam. Dia sudah kelihatan sangat lelah. Sangat lelah. Tapi masih sempat cerita. ‘Tadi kakak main air, mama, tadi ada empat orang teman kakak membuat kesalahan dan dihukum. Kakak berzikir jangan sampai kakak punya kesalahan. Alhamdulillah bukan kakak. Tapi karna korsa kami semua pasti dihukum bersama,” kata dia.

Lebih lanjut, ia menuturkan

anaknya sempat mengalami sakit demam usai menjalani kegiatan latihan itu. Tapi sang orangtua masih berfikir positif karena sedang menjalani latihan itu.

“Waktu kita masuk kamar kita baru sadar badannya panas. Demam. Tapi tidak kami bangunkan karena kami anggap, kami masih berpositif thinking, itu proses metabolisme tubuh karena dia melakukan kegiatan fisik yang lebih dari biasanya. Seperti itu,” jelas Wahyuniarti.


Baca Artikel Lainnya: