Kasih Seorang Adik

Kasih Seorang Adik

 

Aku memiliki seorang adik laki-laki yang usianya berbeda tiga tahun

lebih muda dariku. Suatu hari, aku sangat ingin memiliki sehelai sapu tangan yang saat itu menjadi tren dikalangan anak gadis seusiaku. Karena tidak meiliki uang, maka aku mengambil Rp. 50 ribu dari saku celana ayah.

Sore itu sepulang sekolah, ayah memanggil kami berdua. Beliau memegang sebatang rotan yang cukup panjang dan meminta kami berdua berdiri di tepi dinding. “Siapa yang mencuri uang ayah?” tanya ayah dengan sangat marah.

Namun kami berdua hanya diam membisu tanpa berani menatap mata ayah. “Baik, kalau tak ada yang mau mengaku, kalian berdua, akan ayah pukul dengan rotan!” ucap ayah dengan mengangkat rotan siap untuk memukulku lebih dulu.

Tiba-tiba, adikku menangkap tangan ayah

dengan kedua belah tangannya dan berkata, “Saya yang ambil!” Belum sempat adik menarik nafas setelah mengungkapkan kata-kata itu, ayunan rotan langsung mengenai tubuhnya. Beberapa pukulan mengenai tubuhnya dan menjadikanku gemetar melihat hal itu.

“Kamu sudah mulai belajar mencuri di rumah sendiri. Bagaimana kelak, kalau sekarang saja kamu sudah berani mencuri?” bentak ayah kepada adikku.

Malam itu, kulihat ibu mencoba mengobati luka-luka di tubuh adik sambil menitikkan air matanya. Namun adik kelihatan cukup tabah menerima hal itu, bahkan ia tidak menangis sama sekali. Melihat hal itu, aku tak dapat lagi menahan air mata, aku menangis sekuat hati, kesal dengan sikapku yang tidak berani jujur bahkan telah membuat adik kecilku menderita. Tapi adik segera menutup mulutku dengan kedua belah tangannya, lalu ia berkata, “Kakak jangan menangis, semuanya sudah terjadi!”

Beberapa tahun telah berlalu. Adik mendapat beasiwa

untuk belajar di sebuah sekolah internasional yang mewajibkan siswanya tinggal di asrama. Dan aku sendiri kini ingin melanjutkan pendidikanku kesebuah universitas yang cukup bergengsi.

Suatu malam, aku mendengar ayah berkata kepada ibu, “Mah, ayah sangat senang sekaligus bagga, keedua anak kita sangat berprestasi dalam belajar!”

Namun kudengar suara lirih ibu menanggapinya, “Tapi bagaimana caranya bang… !” Di mana kita mencari uang untuk membiayai mereka?”

Tibaba-tiba adikku keluar dari kamarnya. Sambil berdiri di depan ayah dan ibu ia berkata. “Ayah, saya tak ingin sekolah lagi!”

Mendengar kata-kata adik, perlahan ayah bangun dari duduknya sambil menatap wajah ibu, lalu wajah adikku dalam-dalam. Plakkk.. Sebuah tamparan yang cukup keras singgah di pipinya. Tapi, seperti biasa aku hanya menutup muka dan menangis tanpa berbuat apapun.

“Kenapa kamu ini? Tahu tidak, meski ayah terpaksa harus mengemis untuk menyekolahkanmu, tetap ayah akan lakukan!” “Kamu adalah satu-satunya anak laki-laki dikeluarga ini. Dan kamu harus menyelesaikan pendidikanmu.”

Malam itu aku menemui adikku di kamarnya, aku memujuknya agar tetap melanjutkan sekolahnya. Tapi adik tidak berkata apa-apa, ia hanya menunduk saja.

Keesokan harinya ibu tampak bingung mencari adik karena tidak ada di kamarnya. Ternyata ia telah kabur dari rumah dengan membawa beberapa baju lusuh yang ia punya. Hanya secarik kertas yang ia tinggalkan di atas ranjang.

“Kak… untuk dapat peluang masuk ke universitas seperti itu bukanlah perkara mudah. Biarlah saya yang mengalah, saya akan mencari kerja dan akan mengirimi kakak uang buat kuliah.”

Apa lagi yang aku tahu selain menangis saja. Dan ayah tampak termenung, jelas ia cukup kecewa. Begitu juga ibu yang terus menagisi adik.

Akhirnya akupun masuk ke universitas itu. Pada suatu petang ketika sedang beristirahat di asrama, teman sekamar memanggilku, “Ada pemuda kampung yang menunggumu di luar!” katanya.

“Pemuda kampung?” bisikku. “Siapa?” Dengan tergesa-gesa aku keluar dari kamar. Dari jauh aku melihat adik berdiri dengan pakaian lusuhnya yang dipenuhi lumpur dan semen.

Aku cepat-cepat menghampirinya, “Dik, kenapa kau sebut orang kampung, sebutlah adikku!”

Sambil tersenyum dia menjawab, “kak lihatlah pakaian saya ini. Apa yang akan teman-teman kakak katakan kalau mereka tahu saya adik kakak?” Jantungku terasa berhenti berdenyut mendengar jawapannya. Aku sangat tersentuh. Tanpa sadar, air mata mengalir di pipiku. Dalam suara antara terdengar dan tidak, aku bersuara, “Kakak tak peduli apa yang akan orang lain bilang, kakak bangga memiliki adik sepertimu.”

Adik lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. ternyata itu sebuah jepit rambut cantik berbentuk kupu-kupu. Lalu ia mengenakannya pada rambutku sambil berkata, “Kak, saya melihat banyak gadis memakai jepit rambut seperti ini, makanya saya tertarik untuk membelikannya satu untuk kakak.” Aku terdiam mendengar kata-kata adik, tanpa sepatah kata pun aku rangkul dia erat-erat.

Setelah beberapa tahun, akhirnya pendidikanku di universitas berhasi kutamatkan. Segera saja aku pulang ke kampung untuk menemui ibu dan ayah. Setibanya di rumah aku sedikit kagum, karena rumahku yang dulu aku tinggalkan untuk kuliah sangat jelek, tapi kini kelihatan rapi.

Di depan pintu kulihat ibu sedang berdiri menantiku. “Bu, rumah kita sekarang menjadi lebih baik, apakah ibu dan ayah yang memperbaikinya?”

Dengan senyum di bibirnya ibu menjawab “Adikmu yang memperbaikinnya sampai tangannya terluka. Dia pulang kemarin, dan katanya ia ingin menyambutmu”

Segera saja aku berlari kekamar adikku. Adik tampak tersenyum melihatku, langsung saja kudekap dia. “Sakit kak?” teriaknya yang kudekap dengan erat. “Kata ibu tanganmu terluka saat memeprbaiki rumah kemarin”

“Ah.. ini cuma luka biasa saja, semasa saya menjadi kuli, kerikil dan serpihan pasir jatuh seperti hujan menimpa saya setiap saat. Tapi semua itu bukan apa-apa karena saya ingin bekerja untuk megirimi kakak uang.” Aku hanya menagis seperti biasa, mendengar kata-kata adik.

Diusia ke 27 tahun aku menikah. Suamiku adalah seorang pengusaha yang cukup sukses, ia menawarkan sebuah pekerjaan kepada adik untuk mengelola salah saru toko miliknya. tapi adik menolaknya, ia berkata kalau ia terima pekerjaan itu, apa tanggapan orang terhadap sumiku, ia tak punya pendidikan. Katanya lagi,  biarlah ia bekerja dengan kemampuan yang ia miliki saja.”

“Dik, kamu tidak melanjutkan sekolah kerana ingin kakak kuliah, biarlah kali ini kakak membalas semua kebaikanmu.” kataku mebujuknya.

“Sudah, lupakan saja kak. Itu semua adalah masa lalu?” katanya ringkas.

“Dik mengapa kau lakukan ini, apakah kau tidak menyayangi kakak lagi?” tanyaku.

Spontan adik menjawab, “Ka, di dunia ini selain ayah dan ibu, kakaklah yang paling saya sayangi”.

“Mengapa?” tanyaku mendesak.

“Dulu semasa kita sama-sama masih Sekolah Dasar, setiap hari kita berjalan bersama menuju ke sekolah. Suatu hari sol sepatu saya lepas. Dan melihat saya hanya memakai sebelah sepatu, kakak membuka sepatu kakak dan memberikannya pada saya. Sampai di rumah saya melihat kaki kakak berdarah akibar tertusuk-tusuk batu kerikil.” “Sejak itulah saya berjanji pada diri saya akan melakukan apapun demi kebahagiaan kakak. Saya berjanji akan menjaga kakak sampai kapanpun.”

Kini adikku tetap tinggal di kampung. Setelah ayah kami tiada, ia melanjutkan pekerjaan ayah menggarap ladang. Beberapa bulan kemudian ia menikah dengan seorang gadis cantik di desa kami, dan hidup bahagia dengan anak-anak mereka.

Baca Juga :