Macam Aliran Landasan Etika

Macam Aliran Landasan Etika

Berikutnya kita akan membahas secara ringkas berbagai macamaliran yang menjadi landasan etika.


  1. Naturalisme

Paham ini berpendapat bahwa sistem-sistem etika dalam kesusilaan mempunyai dasar alami, yaitu pembenaran-pembenaran hanya dapat dilakukan melakukan melalui pengkajian atas fakta dan bukan atas teori-teori yang sangat metafisis. Naturalisme juga berpendapat bahwa manusia pada kodratnya adalah baik, sehingga ia harus dihargai dan menjadi  ukuran. Dengan begitu, diharapkan penjabaran atas perilaku akan memperoleh asas yang tetap. Namun, kelemahan yang muncul ialah bahwa pandangan seperti ini dalam kenyataan menjabarkan “yang seharusnya” dari “yang ada”, suatu akur pemikiran yang bisa menyesatkan. Aliran ini mengilhami paham vitalisme (vita= kehidupan) yang salah seorang tokohnya adalah NietzscheVitalisme berpendapat bahwa perilaku yang baik ialah perilaku yang menambah daya hidup, sedangkan perilaku yang buruk adalah yang merusak daya hidup. Paham ini mengundang kritik karena sistem kefilsafatannya yang mengandung pertentangan logika. Vitalisme menginginkan kehidupan alami, tetapi justru menginginkan kematian roh.


  1. Individualisme

Emmanuel Kant adalah salah seorang filsuf yang senantiasa menekankan bahwa setiap orang bertanggung jawab secara individual bagi dirinya. Memang esensi individualisme adalah ajaran bahwa di dalam hubungan sosial yang paling pokok adalah individunya. Segala interaksi dalam masyarakat harus dilakukan demi keuntungan individu. Dampak positif dari individualisme adalah terpacunya prestasi dan kreatifitas individu. Pandangan yang mirip dengan individualisme muncul dari orang-orang yang menganut paham liberalisme. Liberalisme berpendapat bahwa setiap individu berhak menentukan hidupnya sendiri. Pandangan ini bermula dari keyakinan bahwa pada dasarnya setiap manusia terlahir bebas. Masalahnya adalah bahwa pilihan tindakan yang diambil oleh seseorang sering kali mengganggu kebebasan orang lain yang bertindak sesuai dengan pilihannya pula. 


  1. Hedonisme

Titik tolak pemikiran hedonisme ialah pendapat bahwa menurut kodratnya manusia selalu mengusahakan kenikmatan (bahasa Yunani, hedone= kenikmatan), yaitu bila kebutuhan kodrati terpenuhi, orang akan memperoleh kenikmatan sepuas-puasnya. Pendapat ini bermula pandangan dari Aristippus, seorang pendiri mazhab Cyrene (sekitar 400 SM) dan jugaEpicurus (341-271 SM), bahwa mencari kesenangan adalah kodrat manusia. Sayangnya, dalam kenyataan kita melihat bahwa kaum hedonis tidak pernah mencapai tujuannya. Bukti-bukti yang menunjukkan bahwa manusia akan senantiasa mengejar kenikmatan ternyata tidak lengkap. Sempalan pemikiran dari paham hedonisme antara lain terungkap dalam polaMaterialisme. Gagasan utamanya adalah bahwa pada dasarnya alat pokok untuk memenuhi kepuasan manusia adalah materi, manusia tidak lagi memiliki hakikat sebagai manusia jika melepaskan diri dari materi. Selain itu, terdapat pula paham yang bermula dari tulisan Karl Marx, yang bisa disebut sebagai Marxisme. Ada kemiripan antara paham ini denganHedonisme dan Materialisme, hanya saja Marxisme mencoba membalikkan logika etisnya dari fakta bahwa setiap manusia memiliki rasa lapar, memiliki kehendak untuk melestarikan diri atau untuk hidup. Lebih lanjut Marxisme melihat bahwa pertimbangan kesusilaan sering kali ditentukan oleh kepentingan.


  1. Eudaemonisme

Eudaemonisme berasal dari bahasa Yunani, yaitu Demon yang bisa berarti roh pengawal yang baik, kemujuran atau keuntungan. Orang yang telah mencapai tingkatan. Eudaemonia akan memiliki keinsyafan tentang kepuasan yang sempurna, tidak saja secara jasmani tetapi juga rohani. Eudaeomnisme mencita-citakan suasana batiniah yang disebutbahagia. Lebih dari itu, secara psikologis manusia ternyata tidak semata-mata mengusahakan kebahagiaan, ada juga orang yang lebih menyenangi nestapa untuk mencari tujuan hidup. Sebuah ungkapan ironis barangkali dapat menggambarkan masalahnya “barang siapa berbuat kebaikan untuk kebahagian berarti kehilangan kebahagiaan”. Kaum Stoa yang mengajarkanStoisisme, pernah mengemukakan bahwa untuk mencapai kebahagiaan manusia harus menggunakan akal pikirannya. Keberatan yang dapat diketengahkan atas pemikiran stoisisme ini ialah bahwa dalam kenyataan tidak mungkin ada manusia yang tidak terpengaruh oleh apa pun. Kebijaksanaan yang sempurna tak pernah dimiliki oleh seseorang anak manusia. Hal lain yang menunjukan kelemahan stoisisme adalah ketakutannya akan perasaan. Padahal keutuhan manusia akan sirna jika ia sudah tidak memiliki rasa. Seorang manusia yang berusaha mengendapkan perasaan, mencari kebijaksanaan, atau hidup menyendiri terkadang tidak lebih dari seorang pengecut yang tidak berani menghadapi tantangan dalam masyarakat ramai serta menghindar dari permasalahan yang sebenarnya.


  1. Utilitarianisme

Inilah salah satu paham yang sampai sekarang menjadi bahan perdebatan di kalangan filsuf. Pembela utama dari ajaran utilitarianisme adalah Jeremy Bentham (1748-1832) danJohn Stuart Mill (1806-1873). Utilitarianisme mengatakan bahwa ciri pengenal kesulitan pengenal adalah manfaat dari suatu perbuatan. Suatu perbuatan dikatakan baik jika membawa manfaat atau kegunaan, berguna artinya memberikan kita sesuatu yang baik dan tidak menghasilkan sesuatu yang buruk. Ungkapan utilitarianisme yang terkenal berasal dari Jeremy Bentham “the greatest happiness of the greatest number”.


  1. Idealisme

Paham ini timbul dari kesadaran akan adanya lingkun gan normativitas bahwa terdapat kenyataan yang bersifat normatif yang memberi dorongan kepada manusia untuk berbuat. Salah satu keunggulan dari ajaran idealisme adalah pengakuannya tentang dualisme manusia, bahwa manusia terdiri dari jasmani dan rohani. Berdasarkan aspek ciprta, cipta, dan karsa yang terdapat dalam batin manusia, kita dapan membagi tiga komponen idealisme. Pertama disebut idealisme rasionalistik yang mengatakan bahwa dengan menggunakan pikiran dan akal, manusia dapat mengenal norma-norma yang menuntun perilakunya. Kedua adalahidealisme estetik,  bertolak dari pandangan bahwa dunia serta kehidupan manusia dapat dilihat dari perspektif “karya seni”. Lalu yang ketiga disebut idealisme etik, pada intinya ingin menentukan ukuran-ukuran moral dan kesusialaan terhadap dunia dan kehidupan manusia.


Sumber:

https://www.dosenpendidikan.co.id/