Pendidikan Karakter di Ruang Baca Tanah Ombak

Pendidikan Karakter di Ruang Baca Tanah Ombak

Kemendikbud — Selama bertahun-tahun, sebuah gang di dekat Pantai Padang dikenal

dengan sebutan ‘gang setan’ karena perilaku masyarakatnya. Namun perlahan-lahan karakter masyarakat di tempat tersebut berubah menjadi ramah dan santun berkat kehadiran Ruang Baca Tanah Ombak tiga tahun yang lalu.

“Dulu tempat kami dinamai gang setan, gang yang tidak pernah dimasuki orang luar. Petugas PLN dan PDAM yang memberi julukan itu, karena mereka sering diancam warga. Sekarang banyak perubahan,” kata Yusrizal KW, pendiri Ruang Baca Tanah Ombak dalam acara Festival Literasi Indonesia, di Kuningan Jawa Barat, Kamis (7/9/2017) yang lalu.

Yusrizal menceritakan bahwa kehadiran Tanah Ombak awalnya terasa aneh di mata masyarakat. Di tengah masyarakat yang tidak akrab dengan membaca, tidak peduli dengan pendidikan, angka buta aksara tinggi, dan kriminalitas juga tinggi, hadir sebuah taman baca yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Sebelum Tanah Ombak Hadir, sudah ada kegiatan yang menggali potensi

seni anak-anak muda di lingkungan tersebut. Kegiatan dengan nama Kelompok Studi Seni dan Teater tersebut dipelopori Syuhendri. Akhirnya Yusrizal dan Syuhendri sepakat mendirikan gerakan yang lebih fokus pada literasi pada bulan Juli 2014.

Gerakan awal Tanah Ombak dimulai dengan pengumpulan buku, serta meningkatkan minat dan budaya membaca. “Selain itu menjadikan kreativitas seni sebagai energi ekspresif suntuk memacu anak-anak berkumpul di Tanah Ombak,” ujar pria yang juga penulis cerita pendek tersebut.

Program-program kreatif juga disiapkan oleh Yusrizal dan teman-teman relawan Tanah Ombak untuk menumbuhkan minat generasi muda. Selain itu Tanah Ombak juga menetapkan garis-garis besar kegiatan yang ingin diintegrasikan yaitu belajar, membaca, peningkatan potensi berdasarkan minat dan bakat, serta kemandirian. “Jika belajar, membaca, peningkatan potensi bisa terpenuhi, maka kemandirian akan mudah tercapai,” tambah Yusrizal.

Kegiatan rutin harian, mingguan, bulanan, dan tahunan digarap dengan sungguh-sungguh

oleh Yusrizal dan teman-temannya. Kegiatan seperti membaca, berdiskusi, menulis kreatif, menggambar, belajar Bahasa Inggris, bermain dengan permainan tradisional dilaksanakan untuk menumbuhkan karakter positif anak-anak Tanah Ombak. Bahkan kegiatan-kegiatan yang tidak terkait literasi seperti pelatihan hidroponik, menanam bunga, membuat kue pun mereka jalankan.

Keberadaan Tanah Ombak secara perlahan merubah aktivitas anak-anak muda di sekitarnya dan juga orang tua mereka. Jika dulu anak-anak muda terbiasa mabuk dengan cara “ngelem” ataupun menonton tayangan pornografi di warnet, kini mereka terbiasa membaca, berdiskusi, dan menyalurkan minat mereka dengan kegiatan-kegiatan yang positif.

Gerakan yang dijalankan Tanah Ombak juga menginspirasi gerakan-gerakan serupa di berbagai kota dan kabupaten. Munculnya gerakan serupa dipandang sebagai mitra, dan tidak jarang Yusrizal dan teman-temannya menggandeng banyak komunitas dan lembaga lain dalam kegiatan-kegiatan yang mereka jalankan.

Pada Puncak Peringatan Hari Aksara Internasional tahun 2017 ini Ruang Baca Tanah Ombak meraih penghargaan Taman Bacaan Kreatif Rekreatif dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Penghargaan diserahkan langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy di Kuningan Jawa Barat. “Kehadiran saya tentu mewakili anak-anak, teman-teman relawan yang hebat yang karena berkat mereka semua kita bisa bergerak bersama,” ucapnya usai menerima penghargaan. (Nur Widiyanto)

 

Baca Juga :