Tak Lagi Cari Sinyal Berkat Palapa Ring Barat

Tak Lagi Cari Sinyal Berkat Palapa Ring Barat

Natuna, Kominfo

Sejak awal tahun 2018, tepatnya setelah Palapa Ring Barat beroperasi, operator telekomunikasi mulai menghubungkan Base Transceiver Station (BTS) dengan jaringan tulang punggung internet berkecepatan tinggi itu. Operator telekomunikasi pun bisa menggelar layanan 4G untuk masyarakat Kabupaten Natuna. Kini warga Natuna tak lagi repot cari sinyal. Bahkan, layanan internet bisa menjangkau ke kawasan pulau terluar bisa membuat ekonomi digital menggeliat.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Natuna

Raja Darmika mengatakan layanan internet di Kabupaten Natuna saat ini berkembang pesat berkat Palapa Ring Barat.

“Pada 2016, bisa dikatakan kami tuh masih sulit sinyal. Ada bahasanya sinyal itu harus jadi cari-cari, ada bahasanya tuh kami harus panjat pohon. Kemudian SMS pun kadang-kadang itu harus menunggu lama baru kami terima. Dengan hadirnya Palapa Ring Barat, operator sudah terhubung, berarti isu yang selama ini keterbatasan bandwith itu sekarang sudah tidak ada isu lagi,” ungkap Raja usai acara Festival Teknologi Palapa Ring, di Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) Selat Lampa, Kabupaten Natuna, Rabu (20/03/2019).

Menurut Raja Darmika, sinyal jaringan telekomunikasi yang baik otomatis membuat akses internet semakin lancar. Bahkan, ia menyatakan kelancaran akses internet juga makin mempercepat arus informasi. “Hasilnya internet juga menjadi cepat dan masyarakat dengan mudah mendapatkan informasi,” ungkapnya.

Kepala Dinas Kominfo menggambarkan, operator telekomunikasi Telkomsel, awalnya memiliki BTS 4G berjumlah 5 unit. Namun setelah jaringan Palapa Ring Barat bisa beroperasi kini bisa mencapai 16 BTS dalam kurun waktu yang sangat singkat.

“Jaringan internet di sini sangat luar biasa setelah adanya Palapa Ring Barat. Karena dengan serta merta sinyal itu menjadi baik. Tower-tower yang selama ini hanya bisa telepon dan SMS, itu oleh operator bisa ditingkatkan menjadi 4G,” jelasnya.

Sejumlah operator telekomunikasi menggenjot layanan untuk warga Kabupaten Natuna. Hal itu terbukti dengan peningkatan pembangunan BTS 4G. Kini di kabupaten Natuna, terdapat sekitar 97 unit BTS.

“Telkomsel ada sekitar 37, kemudian BTS Kementerian Kominfo melalui BAKTI itu ada 21, lalu kemudian Smartfren ada 15 BTS, Indosat ada 11 BTS, dan sisanya XL. Berdasarkan data kami, ada empat lokasi lagi yang di mana daerah blankspot berpenduduk yang harus dibangun BTS, tapi kalau daerah blankspot yang tidak ada penduduk banyak sekali. Kita usulkan mudah-mudahan tahun 2019 ini bisa dilakukan realisasi oleh Kementerian Kominfo melalui BAKTI,” tutur Raja Darmika.

Ekonomi Digital Menggeliat

Kehadiran jaringan 4G LTE di hampir seluruh wilayah Natuna khususnya, menurut Raja, dapat menjadi pemersatu bangsa serta memperkuat kedaulatan NKRI. Tak hanya itu, Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Natuna itu menyebut akses telekomunikasi bisa menopang pertumbuhan ekonomi lantaran mempermudah pertukaran informasi, melahirkan e-commerce dan menciptakan layanan jasa digital terbaru.

“Dengan adanya layanan data internet berkecepatan tinggi dan stabil, terbukti kegiatan-kegiatan yang selama ini tidak pernah dirasakan oleh masyarakat Natuna secara umum. Contohnya belanja online. Dulu kita browsing susah, sekarang kita akses Bukalapak, Shopee, kemudian belanja-belanja online itu dengan mudah, kemudian itu terbukti juga dengan kami meminta ke operator pengiriman paket barang meningkat. Pada tahun 2018 akhir, itu jumlah paket barang yang datang ke Natuna itu meningkat. Saya punya datanya yang awalnya sekitar 19.000 menjadi sekitar 20.000-an,” jelas Raja.

Raja juga menyebutkan adanya peningkatan kualitas layanan operator yang berdampak pada ekonomi, pendidikan, maupun akses informasi masyarakat Kabupaten Natuna. Apalagi, menurutnya, di wilayah Natuna semakin banyak keberadaan kantor perusahaan perusahaan swasta seperti perbankan yang membutuhkan sinyal kuat.

“Secara ekonomi, semakin banyak pedagang online yang bermunculan di Natuna. Produk yang dipasarkan pun beragam, baik yang asli buatan Natuna maupun yang diambil dari daerah lain. Dijualnya melalui grup publik seperti Facebook, sudah ada sekarang namanya forum jual beli khusus Natuna. Tadinya tidak ada jadi ada. Jadi antara masyarakat terjadi proses jual beli secara online. Ada juga sebagian produk yang dijual ke luar Natuna juga, tapi tidak banyak,” tutur Raja.

Meski demikian, Raja mengakui masih ada kendala penjualan produk khas Natuna ke daerah lain. Ia menyebut faktor harga dan kemampuan masyarakat menyediakan produk sesuai dengan permintaan, sampai tingginya ongkos transportasi.

“Jadi secara promosi digitalnya sudah baik, namun belum didukung dengan faktor lain. Contoh kayak jual produk ikan sale Natuna, itu sekilonya bisa Rp 50 ribu sampai Rp 60 ribu. Misalnya dikirim lewat JNE sudah jadi Rp 100 ribu,” ujarnya.

Sumber:  https://thesrirachacookbook.com/